Ngeghibahin Guru Sendiri

Ghibah atau kata lainnya adalah menggunjing. Sederhananya, yang dimaksud ghibah atau menggunjing adalah membicarakan aib atau keburukan orang lain. 

Dikalangan pelajar, baik anak umum (non-pesantren) maupun kalangan santri (pesantren), adalah salah satu kegiatan yang susah untuk dihindari adalah "nongkrong" bareng kawan, baik di kantin-kantin sambil menikmati secangkir kopi dam cemilan-cemilan, maupun di pinggir-pinggir jalan (malah kalau santri, jangankan di asrama, dikamar mandipun kadang bisa buat tempat nongkrong :v), seakan ada slogan yang tumbuh secara akami, yaitu "Dimanapun jadi, asal oke".


Foto : Google

Saat nongkrong, pasti ada aja obrolan-obrolan yang bisadijadikan topik seru untuk diobrolkan, mulai dari hal0hal yang berbau edukasi, sampai kepada hal-hal yang bernuansa percintaan. Namun, semakin lama nongkrong, topik obrolanpun semakin ngawur, salah satunya adalah ngeghibahin guru sendiri.

Bermula dari membanding-bandingkan seorang guru A dengan guru B yang memiliki cara mendidik yang berbeda, ada yang rada kalem, ada yang galaknya bukan main, sampai kepada hal-hal yang menunjukkan tabiat gurunya yang berperangai buruk, baiok di dalam kelas maupun di luar kelas.

Jadi, kalo kita suka ngegosipin guru sendiri itu termasuk akhlak yang tercela boy, yang hukumnya adalah haram!. "Sekalipun yang kita omongin itu fakta adanya?". Yup, karena diantara adab seorang penuntut ilmu kepada gurunya adalah wajib selalau berusaha berbaik sangka kepada gurunya sendiri. Hal ini telah dijelaskan dalam kitab Maraqil Ubudiyyah, juga didalam kitab Al Majmu' Syarah Al Muhazzab, dan kitab-kitab kuning lainnya.

Salah satu hikayat yang mungkin dapat kita teladani adalah akhlak Imam Nawawi kepada gurunya, yang sedari kecil, beliau Imam Nawawi gemar bersedekah walaupun hanya sebiji kurma kepada fakir miskin di jalan setiap kali ia berjalan menuju tempat belajarnya, seraya berdo'a,

"Wahai tuhanku, tutuplah aib guruku sehingga mataku tidak memandang satu pun kekurangannya dan tidak ada satu pun orang yang menyampaikan kepadaku tentang aibnya."

Luar biasa bukan? Begitu muliannya akhlak seorang Imam Nawawi kepada guru-gurunya, tidak heran beliau menjadi ulama yang sangat hebat, karyanya begitu fenomenal dikalangan umat Islam didunia, diantara kitabnya yang paling populer adalah Minhaj At-Thalibin dan Al-Majmu' Syarah Al Muhazzab. Boleh jadi, keberhasilan beliau dalam menuntut ilmu adalah karena barokah akhlak beliau kepada guru-gurunya, yakni senantiasa berhusnudzon kepada guru-gurunya sendiri.

Entah kenapa jadi gatel nulis gagara baca buku Sangu Urip. Semoga tulisan sederhana ini dapat bermanfaat untuk gue sendiri Amin, dan jika kalian bisa mengambil manfaat dari tulisan ini, Alhamdulillah, jadi nambah-nambah pahala buat gue hehe.

Comments

  1. Alhamdulillah, terima kasih kakak atas pencerahannya selama ini.
    kudu istighfar ini sih -_-

    ReplyDelete

Post a Comment