Membaca, Sebuah Hobi Seorang Ratu Fenomenal

Kisah akan kecantikan dan kehebatan Ratu Cleopatra tentu sudah masyhur hampir di seluruh belahan dunia. Namun siapa sangka jika dia memiliki sebuah hobi yang membuatnya menjadi salah satu pemimpin wanita yang ditakuti dan disegani di masanya.

Cleopatra melewati masa kanak-kanaknya di lingkungan istana kerajaan. Di zaman itu, anak-anak Fir’aun diberikan pendidikan dengan program pendidikan khusus. Mengapa demikian ? Karena sudah pasti anak-anak Fir’aun dipersiapkan dan ditempa untuk menjadi seorang penguasa sepeninggal orang tua mereka. Hal ini menjadikan kurikulum pendidikan bagi anak-anak Fir’aun, baik lelaki maupun perempuan adalah sama.


Pada masa Cleopatra, berbagai mata pelajaran yang ada, berlandaskan pada literatur Yunani, terlebih lagi karya-karya tersebut dianggap sebagai maha karya, yang mana para sarjana, cendekiawan dan ilmuwan menggunakannya untuk mengoleksi naskah-naskah (karya tulis) atau menetapkan undang-undang.

Dengan begitu, belajar menjadi suatu kewajiban, khususnya bagi anak-anak Fir’aun termasuk Cleopatra. Tidak dapat dipungkiri bahwa membaca memiliki andil bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan dan sangat berkontribusi dalam proses pembelajaran.

Berawal dari sebuah tuntutan, seiring berjalannya waktu, membaca menjadi kesenangan tersendiri bagi Cleopatra dan menjadikan membaca sebagai salah satu dari  hobinya.

Cleopatra mempelajari dan membaca kehebatan karya Homer yang mana karya tersebut sangat dikagumi oleh orang-orang di kalangan istana. Dia juga membaca puisi Hesid dan Pindar, tragedi Euriopides, sejarah Herodotus dan lain-lain.

Selain literatur Yunani, Sang Ratu juga senang membaca dan mempelajari bahasa asing. Hal itu dikemukakan oleh seseorang yang bernama Plutarch, ia menuliskan, “ Adalah sebuah kesenangan untuk selalu mendengar suaranya (Cleopatra), yang mana suaranya layaknya sebuah rangkaian instrumen-instrumen, dia dapat berbicara dari satu bahasa ke bahasa lain. Jadi, jarang sekali dia berbicara dengan orang-orang negeri Barbar melalui perantara seorang penterjemah, melainkan dengan dirinya sendiri, seperti bahasa Ethopia, Syiria, Ibrani dan lain-lain. “

Ratu yang menjadi ikon kecantikan ini juga gemar membaca dan mempelajari sains. Hal inilah yang membuat Photinus seorang ahli ilmu hitung (aritmatika) dan geometri memberikan nama untuk salah satu karyanya dengan nama “ Undang-undang Cleopatra “.

Perpustakaan Alexandria yang didirikan oleh pendahulu Cleopatra, Ptolemy I Soter (Ptolemus I) begitu fenomenal di masanya dan termasuk salah satu perpustakaan kuno terbesar di dunia turut menjadi saksi bisu atas kegemaran Sang Ratu akan dunia membaca. Walaupun situs sejarah itu sudah tidak dapat disaksikan lagi dengan penampilan aslinya sebab peperangan yang terjadi di masa itu.

Dikisahkan bahwa terjadi ketegangan antara Cleopatra dengan adiknya sendiri, Ptolemy XIII yang disebabkan perebutan kekuasaan, akhirnya meletuslah peperangan diantara keduanya. Sang Ratu pun  mencari dukungan dan bantuan hingga akhirnya dia bertemu dengan Julius Caesar, Sang Kaisar Romawi. Dari pertemuan itu tumbuhlah benih cinta diantara keduanya. Selama menjalin percintaan, keduanya hampir setiap hari mengunjungi perpustakaan Alexandria bersama-sama. Namun naas, ketika terjadi peperangan antara Ptolemy XIII dengan Cleopatra-Julius Caesar, para pengikut Ptolemy menghancurkan perpustakaan tersebut. Setelah meraih kemenangan atas Ptolemy, Julius Caesar memerintahkan untuk merekontruksi bangunan perpustakaan itu. Namun betapa banyak sumber informasi tentang Mesir dan sejarah kuno yang lenyap, habis terbakar.

Bukti bahwa Cleopatra begitu senang dunia membaca tak hanya sampai di situ. Setelah Julius Caesar terbunuh, Cleopatra menjalin hubungan dengan Marcus Antonius, satu dari tiga orang yang memerintah bangsa Romawi pasca kematian Caesar8. Antonius akhirnya menikahi Cleopatra. Sebagai hadiah pernikahan, Antonius memberikan 200.000 gulungan perkamen dan papirus kepada Cleopatra yang diambil dari perpustakan Pergamus, sebuah kota dekat Alexandria untuk dibawa ke Alexandria9. Akan tetapi ada sumber lain yang mengatakan bahwa Antonius hanya menghadiahkan perpustakaan Pergamus berikut isinya kepada Cleopatra tanpa dipindahkan ke Alexandria. Terlepas mana yang benar dari kedua sumber tersebut, keduanya menunjukkan satu hal, yakni Sang Ratu begitu hobi bahkan cinta sekali dengan dunia baca. Sebab pada umumnya bila seseorang hendak memberikan hadiah kepada kekasihnya, tentu yang diberikannya itu adalah sesuatu yang berharga dan dicintai oleh kekasihnya.

Refrensi :
  • https://answers.yahoo.com
  • Murray, S. (2009) The library : An Ilustrated history. Chicagp,IL: Skyhorse Publishing, (pp. 15)
  • http://kompasiana.com.
  • http://en.m.wikipedia.org/wiki/Cleopatra.
  • MacLod, Roy, The Library of Alexandria: Center of Learning in he Ancient World, New York:I.B Tauris & Co. Ltd, 2005
Oleh: Al Faqih & M. Fajrie S

Comments