Orang-Orang Masjid dan Anak-Anak

Ini adalah sebah catatan terbuka dari gue untuk jamaah masjid juga mushollah.


Sering kali gue melihat, saat ada anak-anak yang gemar sekali mendatangi masjid untuk melaksanakan sholat, khususnya di waktu maghrib, dengan lugu dan merasa tak punya beban, mereka (anak-anak) sangat gemar bercanda dengan kawan sebayanya. 

Kita semua sadar, dalam kehidupan anak-anak yang masih kecil, yang ada dipikiran mereka hanyalah main. Main yang tidak mengenal waktu dan tempat. Diamanapun, mereka bisa bahagia.

Lantas, apakah hal itu menyebabkan kita sebagai orang dewasa membiarkannya? 

Pic: Google

Untuk menjawab itu, kita Kembali ke tema awal.

Tidak sedikit di kalangan orang dewasa, jika melihat anak-anak bercanda di masjid atau mushollah langsung membentak dan memarahinya. Apakah bentakan dan amarah merupakan jalan keluar?

Juga, saat ada anak-anak yang gemar sholawatan di masjid maupun mushollah yang berniat mengisi ‘waktu’ menjelang maghrib, jika bacaannya salah, nadanya tidak beraturan, bercanda, bahkan sampai berebut mic, yang dilakukan orang dewasa hanyalah membentak, memarahi, bahkan ada yang lebih parah, yaitu tidak boleh sholat di masjid atau mushollah itu lagi.

Sebagai orang dewasa, tugas kita adalah membimbing, mengayomi, mencontohkan hal-hal yang baik. Bahkan Nabi SAW adalah orang yang sangat sayang terhadap anak-anak.

Pic: google

Jika anak-anak yang pada awalnya gemar ke masjid atau musholla untuk ‘sholawatan’ saat menjelang magrib, atau hanya untuk sholat saja, lalu mereka melakukan hal-hal yang menyebabkan orang dewasa ‘terganggu’, dan yang kita lakukan hanya membentak dan memarahinya, hal itu bisa membuat mental si anak menjadi ciut. Lalu bisa saja nanti dia tidak ingin lagi sholat di masjid atau mushollah. Bisa saja dia tidak mau sholawatan lagi di masjid atau mushollah tersebut.

Memangnya, para ‘orang tua’ (Umurnya udah tua) yang gemar sekali azan dari waktu shubuh hingga kembali shubuh tidak akan pensiun? Pensiun dalam arti tidak akan sakit, juga wafat?

Ketahuilah, anak-anak adalah bibit Emas. Seharunya kita merawatnya dengan baik sehingga bisa tumbuh dengan baik. Bisa menjadi penerus ‘Oran Tua’ yang gemar ke masjid. untuk azan, sholawatan hingga berjamaah. Agar juga menjadi insan yang taat pada agamanya. Sehingga bisa bermanfaat untuk dirinya, kelauraganya juga orang lain.

Lebih-lebih, gue sangat menyayangkan kelakuan orang dewasa, jika iqomah telah dikumandangkan, dan para jama’ah yang terdiri dari orang-orang dewasa membuat barisan (shaff) yang lurus dan rapat, anak-anak yang sudah siap untuk mengikuti sholat berjamaah dengan orang-orang dewasa, malah diperintahkan untuk tidak berada di shaff depan. Mereka (ana-anak) diperintahkan untuk sholat di bagian shaff paling belakang. Juga perintahan tersebut juga diiringi dengan nada kesal dan kurang suka.

Jika anak-anak yang memang hobinya adalah bercanda, lalu saat sholat berjamaah, semua anak-anak di letakan di bagian shaaf paling belakang, justru mereka akan semakin menjadi-jadi dalam candaannya.

Seharusnya, anak-anak diletakan di sela-sela orang dewasa. Bisa dikatakan, dipisahkan dari temannya agar orang dewasa mengawasinya. Ini lah solusi.

Sebagai orang dewasa, tentulah kita harus lebih pintar dan bijak dari anak kecil. Jangan berpikiran pendek dengan mengandalkan nafsu amarah kita. 

Semoga, dengan tulisan ini, para jama’ah masjid atau mushollah juga kita semua, bisa menjadi peribadi yang dapat mengayomi, membimbing anak-anak. Karena anak-anak adalah generasi terbaik. Mereka adalah bibit yang baik. Bibit emas. Untuk itu, kita harus menjaganya.

Al Faqih
Sruput pagi

Twitter: @faqih_abduh
Facebook: /faqihabduh
Instagram: @faqihabduh

Comments